Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Viral Ngentot Cewek Liar di Pertemuan Pertama 2
Tradingan.com - Perjalanan berlanjut melewati jalan aspal yang berukuran pas untuk 2 kendaraan seukuran kijang, beruntunglah dalam perjalan ini cenderung sepi, tapi bila berpapasan dengan truk atau sesama bus maka salah satunya harus turun dari jalanan aspal. Hal ini membuat bus bergoyang keras kekiri dan kekanan. Kali ini teman dudukku sangat diam, tapi aku tidak tahu apakah dia tidur atau masih terjaga karena lampu didalam bus dimatikan. Setelah 2 jam berjalan bus mulai memasuki daerah tanjakan dengan jalan yang berlika-liku. Goyangan bus sangat keras sekali ketika menikung karena sopir tidak mengurangi kecepatan sama sekali.
Barang-barang dibawah kursi penumpang mulai berserakan tak terkecuali sandal dan sepatu penumpang yang dilepas. Aku sama sekali tidak khawatir dengan hal itu karena sepatuku tidak pernah kulepas, tapi tidak bagi teman dudukku. Dia kelihatan bingung mencari sandal kanannya yang hilang entah kemana.
Aku mencoba menenangkan, “Mbak, nanti aja dicari kalau bus berhenti dan lampunya dinyalakan, pasti ketemu.”
Bukannya tenang tapi dia malah marah, “Jangan bercanda, ayo bantuin cari.”
“Percuma gelap Mbak, nggak kelihatan apa-apa”, jawabku.
“Belum berusaha udah nyerah”, bentaknya padaku sambil membungkukkan badannya.
“Bukannya menyerah, Mbak, tapi aku kan tidak ikut punya sandal, kalau kaki Mbak juga bisa dilepas mungkin juga ikut hilang ya, hehehe..”, jawabku dengan bercanda.
Dalam remang-remang kulihat dia mendongkakkan kepala menghentikan pencariannya dan dengan cepat tangannya memegang bagian dalam pahaku lalu mencubitnya. Untung bisa kutahan jeritanku, tapi rasa cubitan itu benar-benar menyakitkan. Iswani ganti tersenyum dan tak melepaskan cubitannya berkata pelan, “Untuk tanganku ini nggak bisa dilepas, kalau bisa pasti sudah merah semua sekujur tubuhmu karena cubitannya”.
Kupegang tangannya yang mencubit sambil memohon, “Maaf Mbak, tolong lepaskan cubitannya nanti aku bantuin”.
“Kalau kamu bohong akan kucubit lagi ya”, ancamnya sambil melepaskan cubitannya.
“Iya, iya”, jawabku sambil menengok kebagian belakang bus kalau-kalau ada kursi kosong untuk pindah tempat dan menghindari cubitan berikutnya, tapi tak kutemukan.
“Cari apa Tok? Kursi belakang udah penuh tinggal sebelah sopir kalau mau pindah”, bisik Iswani di telinga kiriku.
“Ah, nggak kok Mbak”, sambil mengelus bekas cubitannya yang masih sakit padahal aku memakai celana jeans tebal. Ternyata siasatku sudah terbaca, “Sial”, ungkapku dalam hati.
“Ayo cepat carikan sandalku sebelum benar-benar hilang”, perintahnya padaku.
“Sebentar Mbak, cubitan Mbak masih sakit nih”, jawabku tak mau kalah.
“Ooo, pingin dicubit lagi ya?”, ancamnya lagi.
“Iya-iya”, lalu kurogoh saku jaketku untuk mengambil senter kecil yang biasa kubawa dan menyalakannya. Kuarahkan senterku ke sandal kirinya untuk melihat bentuknya lalu kubungkukkan badan kebawah kursiku, dengan senterku akhirnya terlihat sandal kanan Iswani ada dibawah tempat duduknya terjepit oleh kaki belakang kursinya dan dinding bus.
Artikel Terkait
“Sudah ketemu Mbak”, kataku sambil menegakkan lagi punggungku.
“Mana?”, tanyanya. “Kejepit dibawah kursi Mbak, dari bawah kursiku tanganku nggak sampai, coba Mbak rogoh sendiri, mungkin tangan Mbak sampai.”
Belum selesai penjelasanku dia sudah membungkukkan badan dan berusaha mencari-cari dengan tangannya. Tapi usahanya gagal.
“Tok, coba kamu aja yang ambil tapi lewat sini”, sambil menunjuk ruangan diantara kedua belah paha kakinya yang sudah dilebarkan.
“Yang bener Mbak?”, meskipun dia memakai celana jeans tapi tetap aja rasanya nggak benar. Lanjut baca!

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...